Friday, April 07, 2006

Perjalanan Seorang Grappler

Kisah ini saya ceritakan berdasarkan pengalaman dan observasi saya sebagai seorang grappler yang belajar grappling di Amerika Serikat. Pertama kali saya merasakan pertarungan grappling adalah sewaktu saya masih sering ikut pertandingan bela diri Filipina yang bernama Arnis (1992-1993). Olah raga ini pada dasarnya adalah Mixed Martial Arts + senjata pentungan rotan. Bila berhadapan dengan lawan2 yang pernah belajar gulat, saya selalu kesulitan karena pada dasarnya saya sangat buta terhadap pertarungan grappling.

Lalu pada tahun 1993, saya melihat ada iklan di majalah 'Black Belt' mengenai Brazilian Jiu-Jitsu dan tertarik untuk memesan kopi video: Gracie Jiu-Jitsu in Action 1 & 2. Setelah menonton pertarungan2 yang ada di dalam video tersebut (dimana petarung2 keluarga Gracie mengalahkan lawan2nya dengan telak dan mudah), dalam hati saya masih berkata, “Ah, tidak mungkin seorang pesilat aliran Kung Fu dikalahkan dengan mudah – maklum memang saya juga pernah belajar Kung Fu sih.” Lalu, “Mungkin saja video yang mereka masukan yang pertarungan2 yang mereka menangkan saja. Kalau kalah sih tidak akan dimasukan.” Pikiran2 seperti ini tetap saja terlintas di benak saya walaupun saya sendiri kalau menghadapi pegulat di pertandingan Arnis juga selalu kalah telak.

Lalu pada tahun 1994, saya ikut kelas ekstra kulikuler di Universitas saya (UC San Diego) di kelas yang bernama “Ground Fighting.” Pada saat itu saya sudah bisa menerima keampuhan Brazilian Jiujitsu setelah melihat Royce Gracie memenangkan UFC 1 dan 2 dengan mudah tanpa cidera atau menciderai lawannya. Instruktur kelas tersebut adalah Roy Harris dan asistennya adalah Michael Jen. Keduanya warga negara Amerika Serikat. Kesan saya pertama adalah, “Kok yang mengajar bukan orang Brazil, ya? Tapi kok teknik2nya mirip sekali dengan yang dilakukan Royce Gracie, ya? Ya sudah lah, daripada tidak belajar sama sekali mendingan sama mereka saja, lah.” saya pikir.

Roy dan Mike sebelumnya ternyata juga pernah belajar di akademinya keluarga Gracie. Setelah dari keluarga Gracie, mereka juga berguru kepada Nelson Monteiro (salah satu pembuka jalan BJJ di AS yang tinggal di San Diego). Lalu juga pernah berguru kepada keluarga Machado (sepupu keluarga Gracie yang juga sama tersohornya di dunia grappling). Disini terlihat jelas adanya ketidakcocokan antara budaya Brazil dengan budaya AS. Orang2 Brazil pada umumnya cenderung untuk berkumpul bareng (atau yang kita sebut 'nge-geng' di Indonesia) sedangkan orang2 AS lebih cenderung individualistis. Jadi bagi orang amerika, untuk berguru kepada 2 guru (atau lebih) pada saat yang bersamaan merupakan hal yang normal karena fokus mereka adalah untuk meningkatkan kemampuan mereka sendiri. Sedangkan bagi orang2 Brazil, berlajar dari orang lain yang bukan seperguruan adalah pengkhianatan.

Yang membuat masalah menjadi lebih buruk adalah ketika Roy dan Mike mulai belajar Sambo (gulat Rusia) dari bekas juara Sambo Junior dari Rusia. Sambo adalah ilmu grappling yang mirip sekali dengan BJJ dan Judo hanya kelebihannya adalah dari segi keahlian mereka melakukan kuncian kaki. Kuncian kaki sudah lama dilarang di Judo dan begitu pula di BJJ. Masyarakat BJJ pada saat itu menganggap petarung yang menggunakan kuncian kaki adalah banci. Aneh sekali reaksi manusia terhadap sesuatu yang mereka tidak mengerti/kuasai. Padahal Roy Harris yang saat itu masih sabuk ungu di BJJ sudah sering bisa mengalahkan orang2 yang sabuk BJJnya lebih tinggi dengan kuncian kaki.

Akhirnya mereka bertemu dengan seorang guru BJJ yang sangat berpengertian, Joe Moreira. Joe adalah salah satu guru yang tidak pernah merasa takut untuk mengajarkan semua ilmunya kepada murid2nya. Mungkin sangking terlalu royal sampai sering kali beliau mengajarkan terlalu banyak sehingga muridnya malah jadi bingung karena kebanyakan pilihan teknik. Tapi bagaimanapun juga, saya tetap menghormati beliau karena ia adalah orang yang jujur dan berkepribadian bersih dari permainan2 politik yang tidak sehat. Beliau merupakan orang2 yang pertama yang berani membuka diri mengajarkan BJJ kepada atlit2 MMA non BJJ seperti Kimo Leopoldo dan Marco Ruas. Tentunya hal seperti ini sangat ditentang oleh masyarakat BJJ yang sangat eksklusif. Joe tidak perduli terhadap kritik dari komunitas BJJ karena fighter2 seperti Kimo dan Marco sudah janji akan bawa nama BJJ bila mereka bertanding di arena MMA.

Kembali lagi ke perjalan latihan saya di San Diego. Sewaktu saya baru mulai grappling, saya selalu ikut kelas grup dan tidak pernah ambil kelas privat. Alasan saya, “Ketika saya belajar beladiri lain seperti Arnis, Kun Tao, Silat, Karate, dsb saya tidak pernah perlu les privat, tuh. Hasilnya ok2 saja tuh.” Akibatnya saya selalu berada di bawah karena selalu tertekan oleh tekanan lawan2 saya (lagian tinggi saya hanya 168 cm dengan berat 70 kg melawan lawan2 yang paling tidak 175 cm dan jauh lebih berat). Dan tidak pernah sekalipun saya tidak pernah menyerah (tap out) bila grappling lawan siapapun (termasuk melawan wanita).

Setelah 3 bulan pertama saya selalu habis dilindas oleh semuanya (lagi2 termasuk wanita), saya cari2 informasi tambahan dari majalah pusaka saya (Black Belt Magazine), disitulah saya melihat adanya iklan yang dipasang oleh keluarga tersohor Gracie dengan bintangnya: Royce Gracie. Isinya mengajarkan ilmu2 keluarga Gracie Jiujitsu. Saya masih ingat pikiran saya ketika paket kiriman video tersebut tiba di depan pintu rumah saya. Saya berpikir, “Yess ... no more tapping out to girls!!!” Perasaan yakin semakin mengarungi saya ketika saya memutar video2 tersebut. Disitu saya belajar teknik2 baru yang saya yakin akan membuat teman2 latihan saya jadi kewalahan. 3 bulan berlalu tapi hasilnya kok sama saja ya (saya masih pikir bahwa les privat dengan Roy itu tidak perlu karena saya sudah punya videonya Gracie Jiujitsu – juara UFC), malahan sekarang saya lebih sering kena 'Triangle Choke' oleh teman2 saya (termasuk wanita), pada saat melakukan 'Guard Passing'. Lalu setelah 6 bulan tap out terus, saya datang kepada guru saya untuk minta petunjuk mengenai bagaimana caranya untuk mengembangkan diri lebih lanjut. Lalu Roy menawarkan untuk les private lebih banyak dulu sebelum grappling di kelas.

Setelah ambil privat dengan Roy, saya menayakan Roy mengapa kok yang diajarkannya sangat berbeda dengan yang ada di Video Gracie Jiujitsu. Kemudia ia menjelaskan bahwa sebenarnya materi2 yang ada di video mereka adalah jiujitsu tapi jiujitsu yang sudah dilunakkan. Lunak artinya teknik2nya mirip dengan hard core jiujitsu tapi lebih banyak 'vulnerabilities'nya (kelemahan). Sepertinya ini memang disengaja karena keluarga Gracie yakin bahwa yang membeli set video mereka adalah juga para petarung2 UFC (apalagi para pegulat2 AS). Inilah sebabnya pegulat2 seperti Dan Severn kalah dari Royce Gracie karena terkena Triangle Choke ketika juga melakukan 'Guard Passing'. Rupanya Dan Severn pun juga terjebak karena pernah menonton video instruksional Gracie Jiujitsu, ya?

Waktu berjalan terus, lalu saya pindah kota dari San Diego ke Los Angeles. Disana saya meneruskan latihan BJJ dibawah organisasinya Joe Moreira juga, tapi kali ini guru saya adalah Rick Lucero dan Richard Heard. Rick dan Richard juga adalah guru yang baik dan selalu berbagi ilmu tanpa menyembunyikan apa2. Sayapun juga tetap latihan dengan Roy bila saya sedang main di San Diego. Pada waktu yang sama, Michael Jen juga sudah tamat sekolah di San Diego lalu beliau akhirnya kembali ke kota asalnya di daerah San Jose dan disana ia buka sekolah sendiri (tetap dibawah organisasinya Joe Moreira).

Ketika saya kembali ke Indonesia pada Juni 1998, saya pikir latihan BJJ saya akan berakhir karena tidak ada guru dan teman latihan. Ternyata tidak lama setelah saya pulang, guru Kun Tao saya dan anaknya menghubungi saya dan menawarkan kepada saya apakah saya mau mengajarkan BJJ kepada mereka (toh juga saya perlu teman latihan).

Karena kesibukan saya di Indonesia, hubungan saya dengan Roy dan Mike sempat terputus apalagi pada saat itu sudah banyak sekali video2 instruksional mengenai BJJ yang dijual di Internet. Roy, Rick, dan Mike pada saat itupun juga sudah mampu membuat video mereka sendiri. Video yang dibuat Roy dan Rick laku keras, video buatan Mike lebih laku lagi (sampai jaman sekarangpun video mereka bisa dibilang salah satu video instruksional yang baik). Lalu belum lagi keluar video2 yang dibuat oleh Marrio Sperry, Pedro Carvalho, Ralph Gracie, Joe Moreira, Kazeka Muniz, Rick Lucero, Wallid Ismail, dsb. Bisakah anda membayangkan banyaknya video pada saat itu? Saat sekarang lebih banyak lagi, mungkin 3 kali lipat lebih banyak jenisnya.

Jadi dari tahun 1998 sampai 2004 saya melatih BJJ berdasarkan apa yang saya pelajari dari ratusan video BJJ (termasuk video pertandingan). Setiap kali melihat video baru, saya merasa 'cool' karena bisa menunjukan teknik2 yang baru2 apalagi lawan2 saya belum pernah lihat sebelumnya. Tapi seberapa kuat daya serap otak kita untuk bisa mengingat dan melakukan ratusan teknik dari video2 tersebut? Dari pengalaman saya sendiri sih ternyata teknik2 yang saya ingat dan mampu saya lakukan dalam grappling hanya sekitar 2% dari yang saya lihat.

Dimasa yang sama saya juga banyak bertemu rekan2 seperjuangan yang dahulu pernah belajar BJJ di luar negri (Amerika Serika dan Australia). Ternyata ada beberapa dari merekapun mengalami hal yang sama yang pernah dilalui oleh Roy dan Mike ketika belajar dibawah naungan keluarga Gracie (dimana isu2 politik sering kali menjadi lebih penting daripada latihan BJJ itu sendiri). Dari situ saya merasa beruntung karena saya tidak pernah harus dihadapkan kepada situasi tersebut. Ternyata dikalahkan oleh wanita dalam grappling itu jauh lebih produktif daripada harus menghadapi isu2 politik yang tidak produktif bagi kemajuan 'grappling skill' saya.

Ada juga rekan yang berlatih di lingkungan sekolah yang murid2nya terlampau kompetitif. Jangan salah paham karena kompetisi itu ada baiknya, tapi di lingkungan yang terlampau kompetitif, yang akan maju hanyalah orang2 yang memang punya hasrat untuk berprestasi di pertandingan dan biasanya orang2 tersebut juga cenderung memiliki kelebihan fisik yang lebih kuat dari lainnya. Singkat kata, yang akan maju pesat hanyalah orang2 ini sedangkan murid2 yang hanya ingin belajar untuk olah raga saja dan tidak memiliki fisik yang prima seperti superman (termasuk saya) akan terhambat karena tidak pernah diberi kesempatan untuk mengembangkan sedikit demi sedikit. Latihan yang terlalu kompetitif juga meningkatkan kemungkinan cidera. Bila sudah cidera, maka biasanya kita harus berhenti latihan selama berbulan2. Apakah itu akan membantu perkembangan kita? Untung saja selama saya latihan dari tahun 1994 sampai sekarang, saya belum pernah cidera berat karena grappling (kadang2 saja terkena pegal-linu di leher dan pernah cidera siku kiri karena kena Armbar). Sebenarnya di AS pun orang yang berlatih BJJ untuk kompetisi jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding orang yang latihan untuk hobi dan kebugaran.

Lalu pada tahun 2004 ketika saya kebetulan sedang berkunjung di San Jose, saya menghampiri Michael Jen yang ketika itu telah memegang sabuk hitam di BJJ. Jujur saja, ilmu yang diajarkannya kepada saya sangat berbeda (jauh lebih maju) dibanding dengan yang saya alami dahulu ketika Mike masih menjadi asisten Roy di San Diego. Ilmu yang diajarkannyapun juga sangat berbeda dengan yang ditayangkan di video instruksionalnya yang dijual di Internet. Dari saat itu sampai sekaranglah saya kembali menjadi murid tetap beliau. Bahkan dari materi yang Mike ajarkan di 2004, di tahun 2006 juga sudah ada perbaikan untuk materi yang sama.
Minggu lalu, saya baru mengundang kembali guru lama saya, Roy Harris (sekarang juga telah menjadi sabuk hitam di BJJ), untuk memberikan seminar BJJ di Indonesia. Metode mengajar Roy pun juga jauh berbeda dengan yang beliau ajarkan dimasa lalu.

Hikmah dari perjalan grappling yang saya alami ini adalah:
Akan selalu ada cara yang lebih baik dari cara yang kita kerjakan sekarang. Perbaikan adalah merupakan suatu hal yang tidak ada batasnya.

Jadi bagi para pembaca yang ingin menekuni grappling, janganlah menutup kemungkinan bahwa yang anda kerjakan hari ini belum tentu adalah cara yang terbaik. Ilmu yang saya latih pun juga jauh dari sempurna, tapi satu hal yang pasti adalah perjalanan menuju kesempurnaan adalah hal yang paling membahagiakan dan banyak pahalanya.

Salam Hangat

9 comments:

blitz said...

Hahaha...
Saya perhatikan banyak cerita-cerita awal orang bela diri tempo dulu, pasti lucu-lucu.
Mulai dari cerita Eddie Bravo, Martin, Roy Harris, dll.
Saya mau tanya, bagi orang spt eddie bravo yg dulunya belajar zen du ru
apakah skrg dia masih menghormati Profesor Skornia?
bagaimana nasib prof.skornia skrg?apa dia masih mengajar zen du ru?sekarang martin masih di tap ama wanita ga?

Universal Grappling said...

Ya, saya tidak kenal Eddie Bravo secara pribadi (tapi Niko Han dari Synergy Jiujitsu adalah teman seperguruan Eddie di AS), jadi saya juga tidak bisa memberi komentar mengenai rasa hormat beliau terhadap Prof. Skornia. Begitupun pula nasib Profesor tersebut, saya juga tidak tahu.

Mengenai tap sama wanita, memang belakangan ini sudah hampir tidak pernah sih. Tapi jujur saja tergantung lawan siapa ya? Kalau saya diadu dengan grappler kelas dunia seperti Gazzy Parman, Erica Montoya, Kyra Gracie, dsb mungkin saya bisa2 tap sih karena mustinya kemampuan mereka memang diatas saya. Dan lagi ada perbedaan tenaga antara wanita yang besar di barat dengan wanita yang besar di Asia. Tenaga wanita barat jauh lebih kuat.

Jadi ketika grappling dengan wanita, nasihat saya (kepada para lelaki) adalah: jangan grappling menggunakan tenaga seperti halnya kita grappling dengan laki-laki (karena laki2 pasti lebih kuat). Gunakanlah tenaga yang seimbang dengan wanita tersebut jadi yang anda harus lakukan adalah adu teknik, strategi, taktik, dan timing. Siapa tahu anda malah bisa belajar banyak dari wanita tersebut.

blitz said...

Oic, wanita yg datang ke seminar roy jago2 ga? Ntar bisa2 say di tap ama mereka.

mixedFighting said...

Martin said :"Akan selalu ada cara yang lebih baik dari cara yang kita kerjakan sekarang. Perbaikan adalah merupakan suatu hal yang tidak ada batasnya"

Setuju 100% pak....!

mixedFighting said...

btw, grappling dgn lawan jenis...? Saya kok gak kebayang ya? (Maaf belum pernah ikutan lth)

Universal Grappling said...

Bayangkan begini saja ... mana bisa berpikir macam2 kalau lawan kita tersebut sedang menyerang kita sehingga kita sesak napas? Atau sendi kita dibuat sakit ... bisa pikir yang tidak2?

Ya memang grappling itu adalah olah raga yang tidak bisa hanya dilihat saja. Memang sesuatu yang sulit dibayangkan. Mungkin karena itu memang saya juga mengerti mengapa tidak akan banyak orang yang juga akan bisa nge-fans sama grappling. Karena biasanya penggemarnya adalah orang yang sudah pernah coba grappling.

NagaGaban said...

dari dulu komentar saya kepada orang2 bjj cuma satu...

KAPAN BUKA CABANG DI BALIKPAPAN???

saya pasti daftar, hehehe

mixedFighting said...

udah mas ikutan "online grappling " aja ....! Ntar latihannya di rumah... he he he..
Pak Martin, boleh dibahas mengenai hal2 yg non teknis dalam fighting....? Misalnya tentang "rasa takut" sebelum bertarung dsj? Maklum, kan tidak semua pengunjung blog adalah "pemberani".....! Saya pernah baca2 ttg artikel Fear Management-nya Tony Blauer(?-cmiiw), bgmn menurut anda?

Anonymous said...

Excellent, love it! » »